Inilah Kehebatan Mahasiswa Indonesia Di Kompetisi Otomotif Internasional

Peserta Student Formula Japan 2015 (foto dok GURT)
Peserta Student Formula Japan 2015 (foto dok GURT)

Mendekati penghujung tahun 2016, mungkin ada yang bertanya, apa prestasi membanggakan yang sudah di raih masyarakat Indonesia? Tau mungkin ada juga yang bertanya dalam hati, apa yang sudah diberikan untuk Indonesia? Minimal, keberhasilan apa yang sudah diraih tahun ini? Setidaknya keberhasilan untuk diri sendiri.

Namun, akan lebih berarti jika keberhasilan tersebut juga bermanfaat untuk mengharumkan Indonesia dikancah dunia. Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai Universitas di Tanah Air ini. Mereka berpartisipasi di kompetisi otomotif Internasional, untuk membuktikan bahwa Indonesia juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi otomotif.

Jumat, 2 September 2016 lalu, sekitar 20 mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bertolak ke Jepang. Keesokan harinya, Sabtu, giliran sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terbang ke Jepang. Mereka jauh jauh berangkat dari Yogyakarta ke Jepang bukan untuk study tour, melainkan untuk mengikuti salah satu ajang balap mobil paling bergengsi di kelas mahasiswa dunia, yaitu Student Formula Japan (SFJ).

Student Formula Japan (SFJ) adalah salah satu dari 10 seri Student Formula yang digelar di berbagai benua, untuk mahasiswa dari seluruh belahan Bumi. Kesepuluh seri tersebut digelar di United Kingdom, Jerman, Australia, Jepang, Brazil, Italia, Lincoln US, Austria, Hungaria dan Spanyol. Event otomotif bergensi ini berada di bawah naungan Society Automotive Engineering (SAE).

….

Tahun lalu, peserta Formula Mahasiswa di Jepang diikuti oleh 2 tim mahasiswa Indonesia, yaitu dari UNY dan ITS. Sedangkan tahun ini, Student Formula Japan 2016, diikuti oleh 4 tim dari Indonesia, yaitu dari ITS, UNY, UGM dan UNS. Tim dari ITS dan UGM adalah tim yang paling berpengalaman dan berpotensi mendapat peringkat serta prestasi terbaik, sebab SFJ 2016 kali ini adalah kali keempat partisipasi mereka.

Meskipun tim dari UNY baru 2 kali ini mengikuti “Formula 1”-nya mahasiswa ini, namun mereka juga berpeluang meraih prestasi terbaik. Sebab, debut pertama mereka tahun lalu langsung masuk peringkat 29 dari 93 peserta dari berbagai negara. Juga tim Bengawan UNS, yang berpotensi memberi kejutan pada SFJ 2016, sebagai tim pendatang baru terbaik.

TIM UNY: Garuda UNY Racing Team (GURT) Membawa Formula Garuda 16 (FG-16)

Tahun lalu, 2015, Garuda UNY Racing Team (GURT) membangun Formula 15 (F-15) dan membawanya ke Jepang untuk ajang SFJ 2015. Itu adalah kali pertama sekelompok mahasiswa UNY yang tergabung dalam GURT, menjajal balap paling bergengsi untuk mahasiswa Asia, yaitu SFJ 2015. Meskipun, baru pertama, tetapi mereka optimis bisa mencatatkan prestasi untuk Indonesia. Berbekal pengalaman juara yang telah diraih pada ajang balap International Green Car Competition (ISGCC) Korea Selatan.

F15 Garuda UNY Racing Tema (GURT) pada Ajang Student Formula Japan 2015 (Foto Dok. GURT)
F15 Garuda UNY Racing Tema (GURT) pada Ajang Student Formula Japan 2015 (Foto Dok. GURT)

Sekedar informasi, Bondan Prakoso tahun ini meraih predikat Terbaik Ke 2 pada pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Tingkat Nasional 2016 untuk mahasiswa tingkat Sarjana (S1). Bondan maju dalam pemilihan Mawapres Nasional berbekal prestasi bidang otomotif baik dalam maupun luar negeri. Pada pemilihan Mawapres ini, Ia membuat karya tulis ilmiah yang berjudul “Model Penahan Kejut Untuk Meningkatkan Keselamatan Penumpang Mobil dari Kecelakaan”. Produk dari karya ilmiah tersebut diaplikasikan pada mobil Formula Garuda 16, yang dibawa ke Jepang untuk SFJ 2016.

Pada SFJ 2015, GURT berada di peringkat 29 dari 93 peserta SFJ 2015, peringkat tertinggi yang pernah diraih tim dari Indonesia. Tahun 2016 ini, GURT memboyong Formula Garuda 16 (FG-16). Mobil FG-16 adalah hasil pengembangan dari mobil F15. Dari sisi desain, GURT hanya sedikit mengubah desain F15 agar lebih aerodinamis. Dengan penggunaan Fiber Carbon pada seluruh body dan penggunaan Tubular Steel Space Frame pada rangka, FG-15 hanya berbobot 220 Kg, lebih ringan 25 Kg dari F15.

Untuk dapur pacu, masih mengandalkan mesin 600cc milik sepeda motor trail Husqvarna, yang menghasilkan tenaga 46 horse power pada 7.000 RPM dan torsi 42 Nm pada 5.200 RPM. Untuk mengimbangi “muntahan” tenaga sebesar itu, FG-15 menggunakan Limited Slip Differential dengan Axle Shaft. Sehingga distribusi dan pengendalian tenaganya akan stabil.

Sedangkan “otak” yang mengontrol pergerakan mesin dan kendaraan, yang dalam dunia otomotif disebut sebagai Engine Control Unit (ECU), menggunakan Motec M400. Unit pengontrol tersebut telah dimodifikasi oleh mahasiswa, guna pengendalian traksi (traction control) dan telemetri data recording yang akurat, sesuai kebutuhan.

Untuk memudahkan pengendalian saat kecepatan tinggi, FG-16 menggunakan suspensi Unequal Non Parallel Link Arm dengan Pull Rod untuk sespensi depan dan Push Rod untuk suspensi Belakang. Selain itu, jua menggunakan damper double barrel yang dilengkapi compression dan Rebound Adjuster. Sehingga, efek bouncing dan getaran dapat diminimalisir.

Dengan bekal pengalaman tahun lalu dan pengembangan teknologi pada FG-16, GURT berharap bisa menyelesaikan seluruh sesi lomba dengan baik meraih predikat terbaik. Dengan demikian, akan berpengaruh pada peringkat dunia.

GURT dan Mobil FG-16 (foto FB GURT)
GURT dan Mobil FG-16 (foto FB GURT)

Tim UGM: Tim Bimasakti Generasi 5 (G5)

Mobil karya mahasiswa UGM, Formula Bimasakti G5, menggunakan mesin KTM 450 SX-F dengan tenaga maksial 58 Horse Power, lebih “garang” dari FG-16 GURT. Generasi sebelumnya menggunakan mesin Honda CBR 600cc. Bimasakti G5 yang dibawa ke jepang pada ajang SFJ 2016, telah mengalami pengembangan dari generasi sebelumnya. Dari segi bobot, Bimasakti G% telah mengalami banyak penurunan dari generasi sebelumnya, yaitu 330 Kg menjadi 230 Kg.

Mobil Bimasakti G5 Karya Mahasiswa UGM (sumber gambar: ugm.ac.id)
Mobil Bimasakti G5 Karya Mahasiswa UGM (sumber gambar: ugm.ac.id)

Bimasakti G5 menerapkan teknologi Adjustable Fuel Maping System, dimana kebutuhan dan kondisi mesin dapat dianalisis dengan komputer dan ditambah aplikasi GPS. Selain itu, konsep Adjustable juga diterapkan pada sistem suspensi, yang dapat mengatur stiffnes, ride height, low and high speed compression, low and high speed rebound. Dengan teknologi tersebut, pengendalian G5 menjadi terukur, sesuai kebutuhan track dan pengendaranya.

Seperti halnya FG-16 milik mahasiswa UNY, Bimasakti G5 milik mahasisiwa UGM juga menggunakan Limited Slip Differential yang dapat mengatur distribusi tenaga ke roda kiri dan kanan sesuai kebutuhan track. Dengan berbagai teknologi tersebut, tim yakin dengan menargetkan raihan Best Improvement Award.

Tim dari ITS: Sapu Angin Speed Generasi 4 (SAS 4)

Mobil SAS karya Mahasiswa ITS Surabaya (sumber gambar: its.ac.id)
Mobil SAS karya Mahasiswa ITS Surabaya (sumber gambar: its.ac.id)

Student Formula Japan (SFJ) sudah beberapa kali diikuti oleh Tim Sapu Angin Speed (SAS) dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Tahun 2013 adalah pertama kali tim Sapu Angin mengikuti SFJ, dan langsung meraih gelas Best Rookie Award. Saat itu, Sapu Angin langsung mencatatkan diri di posisi 74 terbaik dunia. Setahun kemudian, 2014, SAS berhasil memperbaiki peringkat, menjadi peringkat 47 di SFJ Jepang. Tahun 2015 kemarin, SAS barada di peringkat 49 dari 93 peserta SFJ (sumber: www.jfsae.or.jp).

Mobil balap SAS 4 menggunakan mesin Husaberg seri FE 450cc, yang mampu menghasilkan tenaga 45 horse power pada 9000 RPM dan torsi 43 Nm pada 7400 rpm. Daya yang hampir sama dengan daya mobil FG 16 karya mahasiswa UNY. Dengan konstruksi rangka steel space dan body dengan bahan Carbon Fiber, SAS 4 ini hanya berbobot 210 Kg, paling riangan diantara tim lain dari Indonesia. Sebagai tim yang cukup berpengalaman, 4 tahun berturut-turut mengikuti SFJ, tim Sapu Angin ITS ini berpeluang besar mendapat prestasi dan peringkat terbaik.

Tim dari UNS: Bengawan Formula Student

Tahun ini, adalah kali pertama mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengikuti ajang Student Formula Japan. Mahasiswa UNS yang tergabung dalam tim Bengawan Formula Student, mencoba membuktikan eksistensinya di ajang kompetisi otomotif tingkat internasional, seperti halnya mahasiswa UGM, ITS dan UNY.

Meskipun baru pertama mengikuti SFJ, namun tim Bengawan UNS sering mengikuti kompetisi teknologi otomotif, baik skala nasional maupun Internasional. Prestasi terakhir yang cukup membanggakan adalah juara 2 Shell Eco-Marathon Asia 2016 dalam kategori mobil urban diesel dan mobil urban bensin meraih juara 4. Kompetisi tersebut berlangsung di Filipina, pada Maret 2016 lalu dan diikuti 17 negara dari Asia dan Australia.

Untuk ajang SFJ 2016, tim Bengawan UNS membawa mobil bermesin sepeda motor KTM SX-F 450 SE.  Mesin yang sama seperti yang digunakan pada Bimasakti G5 UGM. Konstruksi body menggunakan Carbon fiber hybrid fiberglass. Sistem suspensi dengan konsep Double unequal length A-arm,  Pull rod untuk suspensi depan dan Push Rod untuk suspensi belakang. Mobil yang baru pertama menginjakkan roda di aspal SFJ ini berbobot 250 Kg.

Mobil Formula Student Bengawan UNS (sumber gambar: https://www.jsae.or.jp/)
Mobil Formula Student Bengawan UNS (sumber gambar: https://www.jsae.or.jp/)

Pemicu Teknologi Otomotif Indonesia

Keempat tim dari Indonesia menuju Jepang tentu bukan sekedar untuk meramaikan, melainkan untuk menunjukkan eksistensi dan partisipasi dalam upaya pengembangan teknologi otomotif. Prestasi atau peringkat pada Student Formula adalah persoalan kesekian, yang terpenting adalah wujud dari pengembangan teknologinya.

Di samping itu, saya melihat bahwa para mahasiswa dari 4 perguruan tinggi negeri ini, ingin menunjukkan pada Indonesia bahwa mereka bisa bersaing di tingkat dunia. Teknologi otomotif yang mereka kembangkan bisa disejajarkan dengan hasil karya mahasiswa dari negara lain yang teknologinya sudah sangat maju, seperti Jepang dan Korea. Dilihat dari spesifikasi kendaraannya, rekayasa teknolologi yang mereka aplikasikan sudah sangat baik, dengan berbagai perhitungan fungsi dan manfaat.

Pertanyaannya, apakah hasil karya mereka hanya berhenti di Student Formula atau kompetisi sejenisnya? Semoga saja tidak. Semoga teknologi yang mereka kembangkan dan modifikasi komponen yang mereka aplikasikan bisa menjadi pemicu munculnya kendaraan yang benar-benar karya anak Bangsa. Kendaraan yang bermanfaat untuk mobilitas masyarakat.

Semoga semangat mereka dalam mengembangkan teknologi otomotif, mendapat ruang dan kesempatan di Indonesia, untuk membangun kemandirian teknologi otomotif Nasional. Harapannya, suatu saat, 4 Universitas ini dan universitas lain yang peduli terhadap kemandirian teknologi otomotif Indonesia, dapat bersatu membangun kendaraan Nasional.

Jayalah Otomotif Indonesia!!!

Salam Otomotif

artikel ini sebelumnya pernah admin posting di kompasiana.com

 

Facebook Comments
Sobat OTONEWS, Jangan lupa untuk share dan comment ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *